Move on dimulai dari memaafkan

Wednesday, October 15, 2014



Orang-orang bacot macem-macem tentang move on. Saranin gini, saranin gitu. Ngasih tips gini gitu ga aturan.
Kadang gue bertanya-tanya apa mereka yang mengaku expert tentang Romansa, expert tentang move on juga.
Pernah nih gue lagi dengerin radio, penyiarnya cuap-cuap tentang cinta, tentang patah hati, tentang move on. Dia bilang, dia baru aja sukses move on. Dan dia berbagi cerita tentang bagaimana dia ber-move-on.
Katanya, move on itu dorongan dari diri sendiri untuk melangkah maju dan melupakan masa lalu. Maka dari itu kita harus melupakan mantan juga. Gak guna untuk diinget-inget.
BULLSHIT!
Gue seketika teriak bullshit, dan orang semobil kaget terperangah ngeliat respons gue, karena pada saat itu si penyiar ngomong, “Cinta itu permainan. Gampang datangnya dan gampang perginya.”
Bullshit!

Maka gue langsung ngomel dan mempertanyakan eksistensi pengalaman si penyiar. Apa dia pernah ngerasain apa yang gue rasain? Apa dia pernah terpaksa harus melepaskan orang yang dicinta pada saat orang itu juga cinta sama dia karena ‘Sesuatu yang taktertembus’?

Tapi sekarang gue rasa setiap orang punya jalannya untuk move on sendiri-sendiri. Dan itu nggak bisa di pas-pas in ke setiap orang.
Cara dia mungkin cocok sama sebagian orang.
Cara orang lain mungkin cocok sama orang lain.
Dan cara gue mungkin cocok sama kamu.
Mungkin.

Gue punya temen, sekarang dia lagi di Taiwan. Namanya Zai An Tian.
Caranya untuk move on itu menghilang total dari si mantan. Bukan hanya karena supaya dia bisa melupakan si mantan, tapi juga supaya si mantan mampu move on dari dia. Secinta apapun mereka satu sama lain.
Ada lagi temen gue namanya John. Orangnya sih masih disini, masih sehat juga kok.
Caranya dia untuk move on itu saaaaaaannggat lemot. Butuh waktu berbulan-bulan, bertaun-taun untuk bisa bener-bener get over it dari mantannya. In the face, dia nggak seperti orang yang sedang patah hati. Tapi begitu close talk berdua sama dia, dan dia akhirnya mao cerita, baru kita ngerasain kesedihan dan miserable-nya dia. Cinta yang luar biasa dari orang yang terlihat biasa saja.

Kita nggak pernah tau betapa seseorang bisa mencintai kita dengan tulusnya dan betapa dalamnya. Kita nggak pernah tau seberapa besar pengorbanan ikhlas seseorang demi kebaikan diri kita.
Sama seperti kita nggak akan pernah tau seberapa besar dan kuatnya iman seseorang kepada tuhannya.
Seperti pemabuk yang selalu berucap bismilah dalam setiap tenggakan bir nya.
Seperti berandalan yang selalu berdzikir Allahu akbar dalam setiap langkahnya di slempitan gelap gang angker.
Seperti aku yang selalu keinget nama dan wajahmu dalam setiap lamunan dan renungan kalbu bathinku. Ayu.

Dulu, aku pernah punya seorang pacar (sekarang sih mantan, dia udah bahagia kok sama EHEM-nya yang baru) yang masih dendam dan trauma sama mantannya yang selama 6 bulan memanfaatkan dia hanya untuk biologis doang. Dan ternyata dia cuma selingkuhan doang. Si cowok ini punya pacar yang masih mesra, sebelom pacaran sama dia.
Si cewek ini stress, dan jadinya sempet ngaco (ngaconya ga perlu gue ceritain lah ya). Tapi dia alhamdulilah berhasil move on, dan akhirnya ketemu sama gue.
Begitu dia sreg dan mampu cerita tentang ini ke gue, dia masih dendam sangat sama si mantannya. Tanggannya mencengkeram erat ujung roknya. Matanya mbrebes mili, suaranya sember, dan dia nggak berani menatap ke arah gue.
Gue hanya bisa megang pundaknya. Gue sedih. Gue bersimpati untuk dia.

Ketika akhirnya dia gak tahan lagi, dia nangis, dia akhirnya menatap muka gue dan nanya, “Terus aku harus gimana, beb?”

Gue peluk dia. Gue cium dia di dahi nya, dan gue pegang kedua pipi dia seraya gue bilang, “Maafkan dirimu untuk kesalahanmu itu, dan kesalahan-kesalahanmu yang kamu perbuat gara-gara kejadian itu. Biarkan berlalu. Berdoalah pada tuhan katakan, ‘Tuhan, aku ingin bertobat. Aku ingin melangkah maju bersama orang baru yang engkau pertemukan padaku. Aku memaafkan dia untuk aku memaafkan diriku sendiri. Mohon restumu untuk diriku dan jalanku kedepannya.”

Beberapa minggu kemudian dia dateng ke rumah gue, dengan senyum lebar, langsung loncat dan peluk gue didepan nyokap yang seketika melongo!
“Aku sekarang udah lega! Aku udah ga ada yang ganjel lagi dihati! Makasih ya bebeb!” , katanya.

Gobloknya,,,,, Gue nangis!
Waktu diceritain sedih, gue ga nangis, lah kok waktu kayak gini gue nangis! Gue juga gak tau kenapa…
Dan nyokap Cuma bisa ketawa aja.

Nyokap orang yang sangat fleksibel. Gue belajar banyak dari nyokap.
Hampir setiap ada masalah gue cerita sama nyokap, gue dituturin banyak hal macem-macem.
Jadi kalo ada orang ditanya, “Siapa orang yang paling berpengaruh dalam hidupmu?” dan dia jawab, “Ibu saya.”, gue tau perasaan dia, dan gue gak nganggap itu jawaban klise.

Nyokap sayang sama (hampir) semua pacar-pacar gue. Hampir, karena nggak semua pacar gue gue bawa untuk dikenalin ke nyokap. Yang gue mao seriusin aja, atau yang sempet gue kenalin ke nyokap. Karena beberapa pacaran gue itu LDR. Jarang ada kesempatan ketemu sama nyokap.

Mungkin ada dua atau tiga mantan yang udah dianggap anak sendiri sama nyokap, tapi udah nggak pernah ngobrol lagi sama nyokap.
Dan nol dari mantannya adek gue yang bisa deket sama nyokap.

Beliau pernah ngobrol waktu di mobil, ”Kamu lagi sedih, mama tau. Gak biasanya kamu waras begini… Kalo kamu udah putus sama si D***, ngmong aja. Gapapa.
Move on itu memaafkan diri sendiri. Memaafkan dia.
Mungkin dia salah. Tapi kamu juga pasti ada salahnya. Gak usah dihitung siapa yang lebih salah. Cinta itu ikhlas. Bukan hitung-hitungan. 1+1=Segalanya. 2-1=Hampa. Hatimu hancur, tapi biarkan it wont broken forever, I trust on you… Lakukan apa yang jadi kewajiban kamu, lakukan apa yang harus kamu lakukan. If she don’t want to follow your lead, then let her go. Wish her luck.
Kalo kamu sedih, telpon mbah putri gih... mo cerita kek, mao nggak kek, telpon aja. Cinta itu sederhana. Cinta mbah ke kamu bakal bikin kamu ngerasa enakan.”

Cinta itu sederhana.
Dan
Move on dimulai dari memaafkan. Diri sendiri, dia atau mereka, dan tetap melangkah maju.



Silahkan mencoba baca sedikit post lainnya

0 comments