Mungkin

Monday, January 16, 2017

Aku menyerah.
Aku menyerahkanmu pada ketegasan sesuatu yang mereka sebut itu takdir.
Pada sesuatu yang aku yakini bahwasanya jikalau engkau memang untuk hidupku, terjadilah.
Namun bila emang Gusti Pangeran menyangkal, hingga lantak tulangku pun, takkan terjadi.

Aku menyerah.
Aku mengakui bahwa engkau memang sejati seorang pengecualian.
Pada nilai yang kuanut kuperkecualikan dirimu.
Pernah kupertanyakan kepada-Nya apa yang ia inginkan dariku kali ini.
Tanpa jawab kupahami, keberserahan mutlak yang harus aku.

Aku menyerah.
Aku menyerah pada sendu redam sikap senjamu.
Pada riuh gesekan dahan yang berbisik untuk terus kuteguh.
Mungkin harga yang harus kubayar atas kepengecutan dan kesombongan yang kuteladani pada hari itu.
Aku rasa, satu-satunya fatalku adalah itu.
Mengingkari lalu terlambat.

Aku menyerah, sayang.
Aku menyerahkan perjuangan ini padamu.
Aku menyerahkan tekadku padamu untuk menemukan jalamu untuk kembali padaku, mungkin.

Silahkan mencoba baca sedikit post lainnya

0 comments