How can i not!?

Monday, April 17, 2017

Aku bisa mengerti kekhawatiran orang yang akan menikah. Mungkin beberapa tahun hingga beberapa waktu lalu aku masih belum benar-benar mengerti akan hal ini.

Aku adalah lelaki yang Insya Allah akan menuju ke jenjang itu dalam waktu dekat ini. Semoga.

Wanitaku juga terkadang memiliki kegelisahan dan kekhawatiran akan hal ini. Dia khawatir apakah nanti ketika berumah-tangga dia bisa merawat keluarga dan mengurus rumah-tangga. Aku terkadang memikirkan hal yang sama dan merasakan kekhawatiran yang sama juga.

Di sisi wanita, kekhawatiran-kekhawatiran tersebut sebanding dengan perasaan exciting, bergairah untuk melangkah kesana. Karena mungkin diantaranya si wanita akhirnya mendapatkan kepastian dan ketetapan untuk dilindungi, dijamin hidupnya, dibimbing, dan diayomi oleh suaminya. Memiliki seseorang yang bisa dijadikan sandaran dan pengurai pikiran-pikirannya (dengan kata lain, Curhat).

Di sisi pria?
Well, aku tidak tahu bagaimana dengan pria-pria lain yang bisa sangat excited ingin melenggang menuju pernikahan, bukannya aku tidak sangat exicted. Aku pun demikian. Tapi kekhawatiranku tentang pernikahan pun sama besarnya.
Aku khawatir apakah diriku yang sekarang sudah layak untuk menjadi seorang suami?
Aku khawatir apakah nanti aku bisa selalu menafkahi keluargaku dengan layak? Karena hidup kadang diatas, kadang dibawah.
Aku khawatir apakah nanti aku bisa menjadi imam, pembimbing, pengayom yang baik untuk anak dan istriku?
Ketika dia salah, bisakah aku menasihatinya dan memperbaikinya?
Ketika aku salah, bisakah aku segera sadar dan memperbaiki diri?
Bisakah aku menjaga composure, ketenangan ketika suatu perdebatan terjadi?
Bisakah aku menjadi anak yang baik untuk mertuaku?
Bisakah aku menjadi adik yang baik untuk kakak-kakaknya?
Dan banyak kekhawatiran lainnya...

Semua berputar-putar dikepalaku dan hanya menghasilkan jawaban : Mungkin.

Mereka yang telah menjalani berpendapat bahwa segala sesuatunya harus dijalani dahulu baru kita tahu jawabannya, dan yakin menyerahkan kepada Tuhan untuk diberikan kekuatan, kebijaksanaan, dan iman untuk menjalaninya.

Tetap saja kekhawatiran itu ada. Walau tidak sedikitpun menghambatku melangkahkan diri menuju jenjang pernikahan itu, kekhawatiran-kekhawatiran itu selalu menggangguku. How can i not!? It is very important for me. Sebagai seorang lelaki aku memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan rumahtanggaku ideal.


Silahkan mencoba baca sedikit post lainnya

0 comments